


Kisah Sekelompok anak muda yang senang dengan dunia fotografi dan mungkin mimpi mereka menjadi Fotografer
Saat ini, dengan paduan kamera digital dan perangkat lunak pengolah citra, proses membuat foto yang indah dapat semakin mudah dilakukan. Ditambah lagi dengan tersedianya paduan fitur kamera digital dalam banyak telepon genggam, kegiatan ini semakin terjangkau oleh lebih banyak orang. Banyak penikmat fotografi yang berpendapat bahwa elemen penentu kualitas sebuah kamera adalah lensanya. Tapi tahukah anda, bahwa kamera yang pertama di dunia dulu dapat bekerja baik, padahal tidak berlensa? Dan uniknya, kamera tanpa lensa ini belum juga punah, karena masih sering dipakai hingga hari ini!
Mengapa Bisa Tanpa Lensa?
Kamera tanpa lensa ini telah dipakai sejak dulu kala [1]. Pada abad keempat, sejumlah tokoh Yunani seperti Aristoteles dan Euclid telah mendeskripsikan teknik tersebut. Begitu pula, pada abad kelima, seorang filsuf Cina bernama Mo Jing juga telah bermain-main dengan teknik ini, yang ternyata memang sederhana namun bekerja dengan cukup baik. Secara sederhana, teknik tersebut dapat diilustrasikan oleh gambar di bawah ini.
Bayangkan bahwa anda memiliki sebuah ruang kamar yang benar-benar tertutup rapat, kecuali pada sebuah ‘lubang jarum’ di salah satu sisinya. Gelombang cahaya akan ‘bocor’ memasuki lubang ini, sehingga sebuah citra akan terbentuk pada sisi dinding yang berseberangan dengan ‘lubang jarum’. Seperti terlihat pada gambar, citra yang terbentuk menyerupai objek yang terletak di luar ruang kamar, hanya saja terproyeksikan secara terbalik.
Foto Terbesar di Dunia
Teknik kamera tanpa lensa ini lalu dikembangkan lanjut oleh Ibn al-Haytham, sang saintis pertama di dunia [2], menjadi ‘camera obscura’ (bahasa latin dari kamar gelap; kata ‘camera’ tersebut akhirnya diadopsi untuk menyebut semua jenis perangkat pembuat foto sampai saat ini) [3]. Dengannya, pemandangan yang indah di alam sekitar lalu dapat diproyeksikan ke atas kanvas, untuk lalu dapat dilukis ulang dengan perspektif yang akurat. Hasilnya lantas dapat dibawa-bawa, agar keindahan alam tersebut juga bisa dinikmati orang lain di tempat lainnya.
Di kemudian hari, orang lalu menggunakan medium film untuk menggantikan fungsi kanvas. Pada tahun 2006, dengan memanfaatkan metode ini, sebuah tim fotografer membuat “Foto terbesar di dunia” [4]. Mereka menggunakan sebuah hanggar tua yang telah tidak dipakai sebagai ‘ruang kamar’ untuk merekam citra. Persis seperti pada ilustrasi di atas, seluruh permukaan hanggar ditutup rapat, kecuali pada sebuah ‘lubang jarum’ yang sangat kecil. Hasilnya, foto yang diabadikan dapat mencapai ukuran 33 kali 8,5 meter persegi.
Mudah Dibuat Sendiri
Dengan mengganti ‘ruang kamar’ dengan sebuah kotak kecil, dan menempatkan media perekam (film ataupun sensor digital) di sisi yang berseberangan dengan ‘lubang jarum’, maka siapapun dapat membuat kamera ini sendiri, misalnya memakai sebuah kotak pensil bekas [5]. Cara mengoperasikannya pun cukup mudah: mainkan lebar bukaan ‘lubang jarum’ serta atur seberapa lama lubang itu dibiarkan terbuka. Secara sederhana, dua aturan di bawah dapat dijadikan panduan:
Nah, selamat mencoba membuat kamera anda sendiri, tanpa lensa!
Bacaan lanjutan
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Pinhole_camera
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_al-Haytham
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Camera_obscura
[4] http://www.ocregister.com/ocregister/homepage/abox/article_1210585.php
[5] http://blog.makezine.com/archive/2006/08/make_video_podcast_weekend_pro.html
Ilustrasi: http://www.candyjar.co.uk/
The camera obscura (Latin; "camera" is a "vaulted chamber/room" + "obscura" means "dark"= "darkened chamber/room") is an optical device that projects an image of its surroundings on a screen. It is used in drawing and for entertainment, and was one of the inventions that led to photography. The device consists of a box or room with a hole in one side. Light from an external scene passes through the hole and strikes a surface inside where it is reproduced, upside-down, but with colour and perspective preserved. The image can be projected onto paper, and can then be traced to produce a highly accurate representation.
Using mirrors, as in the 18th century overhead version (illustrated in the Discovery and Origins section below), it is possible to project a right-side-up image. Another more portable type is a box with an angled mirror projecting onto tracing paper placed on the glass top, the image being upright as viewed from the back.
As a pinhole is made smaller, the image gets sharper, but the projected image becomes dimmer. With too small a pinhole the sharpness again becomes worse due to diffraction. Some practical camera obscuras use a lens rather than a pinhole because it allows a larger aperture, giving a usable brightness while maintaining focus. (See pinhole camera for construction information.)
Contents[hide] |
The first mention of the principles behind the pinhole camera, a precursor to the camera obscura, belongs to Mo-Ti (470 BCE to 390 BCE), a Chinese philosopher and the founder of Mohism.[1] Mo-Ti referred to this camera as a "collecting plate" or "locked treasure room".[2] The Mohist tradition is unusual in Chinese thought because it is concerned with developing principles of logic. The Greek philosopher Aristotle (384 to 322 BCE) understood the optical principle of the pinhole camera. He viewed the crescent shape of a partially eclipsed sun projected on the ground through the holes in a sieve, and the gaps between leaves of a plane tree.
In the 6th century, Byzantine mathematician and architect Anthemius of Tralles (most famous for designing the Hagia Sophia), used a type of camera obscura in his experiments.[3]
However, it was mastered by the scientist Abu Ali Al-Hasan Ibn al-Haytham, born in Basra (965–1039 AD), known in the West as Alhacen or Alhazen, who carried out practical experiments on optics in his Book of Optics.[4][verification needed]
The pinhole camera and camera obscura are sometimes credited to Ibn al-Haytham (Alhazen, 965–1039 AD) [4][verification needed] for the first clear description[5] and correct analysis[6] of the device and for first describing how an image is formed in the eye using the camera obscura as an analogy.[7][verification needed]
However, camera obscura was known to earlier scholars since the time of Mozi and Aristotle.[8] Euclid's Optics (ca 300 BC), presupposed the camera obscura as a demonstration that light travels in straight lines.[9] When Ibn al-Haytham began experimenting with the camera obscura phenomenon, he stated (in Latin translation), Et nos non inventimus ita, "we did not invent this".[10]
In the 4th century BC, Aristotle noted that "sunlight travelling through small openings between the leaves of a tree, the holes of a sieve, the openings wickerwork, and even interlaced fingers will create circular patches of light on the ground." In the 4th century AD, Theon of Alexandria observed how "candlelight passing through a pinhole will create an illuminated spot on a screen that is directly in line with the aperture and the center of the candle." In the 9th century, Al-Kindi (Alkindus) demonstrated that "light from the right side of the flame will pass through the aperture and end up on the left side of the screen, while light from the left side of the flame will pass through the aperture and end up on the right side of the screen." While these earlier scholars described the effects of a single light passing through a pinhole, none of them suggested that what is being projected onto the screen is an image of everything on the other side of the aperture. Ibn al-Haytham's Book of Optics (1021) was the first to demonstrate this with his lamp experiment where several different light sources are arranged across a large area, and he was thus the first scientist to successfully project an entire image from outdoors onto a screen indoors with the camera obscura.[11][unreliable source?]
Several decades after Ibn al-Haytham's death, the Song Dynasty Chinese scientist Shen Kuo (1031–1095) experimented with camera obscura, and was the first to apply geometrical and quantitative attributes to it in his book of 1088 AD, the Dream Pool Essays.[12][verification needed] However, Shen Kuo alluded to the fact that the Miscellaneous Morsels from Youyang written in about 840 AD by Duan Chengshi (d. 863) during the Tang Dynasty (618–907) mentioned inverting the image of a Chinese pagoda tower beside a seashore.[12] In fact, Shen makes no assertion that he was the first to experiment with such a device.[12] Shen wrote of Cheng's book: "[Miscellaneous Morsels from Youyang] said that the image of the pagoda is inverted because it is beside the sea, and that the sea has that effect. This is nonsense. It is a normal principle that the image is inverted after passing through the small hole."[12]
In 13th-century England Roger Bacon described the use of a camera obscura for the safe observation of solar eclipses.[13] Its potential as a drawing aid may have been familiar to artists by as early as the 15th century; Leonardo da Vinci (1452–1519 AD) described camera obscura in Codex Atlanticus. Johann Zahn's Oculus Artificialis Teledioptricus Sive Telescopium was published in 1685. This work contains many descriptions and diagrams, illustrations and sketches of both the camera obscura and of the magic lantern.
The Dutch Masters, such as Johannes Vermeer, who were hired as painters in the 17th century, were known for their magnificent attention to detail. It has been widely speculated that they made use of such a camera, but the extent of their use by artists at this period remains a matter of considerable controversy, recently revived by the Hockney-Falco thesis. The term "camera obscura" was first used by the German astronomer Johannes Kepler in 1604.[14] The English physician and author Sir Thomas Browne speculated upon the inter-related workings of optics and the camera obscura in his 1658 Discourse The Garden of Cyrus thus-
For at the eye the Pyramidal rayes from the object, receive a decussation, and so strike a second base upon the Retina or hinder coat, the proper organ of Vision; wherein the pictures from objects are represented, answerable to the paper, or wall in the dark chamber; after the decussation of the rayes at the hole of the hornycoat, and their refraction upon the Christalline humour, answering the foramen of the window, and the convex or burning-glasses, which refract the rayes that enter it.
Early models were large; comprising either a whole darkened room or a tent (as employed by Johannes Kepler). By the 18th century, following developments by Robert Boyle and Robert Hooke, more easily portable models became available. These were extensively used by amateur artists while on their travels, but they were also employed by professionals, including Paul Sandby, Canaletto and Joshua Reynolds, whose camera (disguised as a book) is now in the Science Museum (London). Such cameras were later adapted by Joseph Nicephore Niepce, Louis Daguerre and William Fox Talbot for creating the first photographs.
Sejarah Kamera Lubang Jarum (Pinhole Camera)
Kamera Lubang Jarum adalah kamera yang bisa dibuat dari kaleng atau dus yang dilubangi sebatang jarum yang di Indonesia ditemukan kembali oleh fotografer Ray Bachtiar Dradjat dan pada tanggal 17 Agustus 2002 mendirikan KLJI, yaitu perkumpulan pemain KLJ yang hingga kini sudah tersebar di lebih 10 kota besar Indonesia. Meski KLJ bukan alat yang sempurna, namun terbukti bisa mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan olah fisik. KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luarbiasa. Maka sangat pantas jika KLJ digunakan sebagai kendaraan untuk “pendidikan” dan juga “seni”. Dengan dasar seperti itu prestasi yang KLJI bisa diraih hingga kini antara lain: KLJ dijadikan pelajaran dasar fotografi di Media Rekam ISI Jogja dan institusi lainnya, melahirkan instruktur-instruktur tangguh, hingga mencetak Sarjana KLJ.
SEJARAH:
Teknologi fotografi bermula dari keinginan manusia yang nyatanya memang menjadi tuntutan kebutuhan untuk bisa merekam gambar sepersis mungkin. Maka digunakanlah kotak penangkap bayangan gambar, sebuah alat yang mulanya untuk meneliti konstelasi bintang-bintang secara tepat yang dipatenkan seorang ahli perbintangan, Gemma Frisius, tahun 1554. Namun cikal bakalnya sudah dimulai oleh penulis Cina, Moti, pada abad ke-5 SM, Aristoteles pada abad ke-3 SM, dan dibukukan seorang ilmuwan Arab ibnu al Haitam atau Al Hazen pada abad ke-10 M. Kemudian pada tahun 1558 ilmuwan Itali Giambattista della Porta menyebut “camera obscura” pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar.
Awal abad ke-17, Angelo Sala, ilmuwan yang berkebangsaan Italia menemukan proses “jika serbuk perak nitrat dikenai cahaya warnanya akan berubah menjadi hitam”. Selanjutnya berbagai percobaan pun dilakukan. Hingga tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis Joseph-Nicéphore Niépce (1765-1833), setelah 8 jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya melalui proses “Heliogravure” di atas plat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur dan berhasil pula mempertahankan gambar secara permanen. Kemudian ia pun mencoba menggunakan kamera obscura berlensa. Maka pada tahun 1826 lahirlah sebuah “foto” yang akhirnya menjadi awal sejarah fotografi.
Merasa kurang puas, tahun 1827 Niépce mendatangi desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) untuk mengajaknya berkolaborasi. Sayang sebelum menunjukkan hasil optimal, Niépce wafat. Akhirnya pada 19 Agustus 1839, Daguerre dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat “foto yang sebenarnya”: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin dan disinari cahaya langsung dengan pemanas mercuri (neon) selama satu setengah jam. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan air suling. Proses ini disebut daguerreotype.
Di Inggris beberapa bulan sebelumnya, tepatnya 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot (1800-1877) memperkenalkan “lukisan fotografi” yang juga menggunakan camera obscura, tapi ia buat positifnya pada sehelai kertas chlorida perak. Kemudian pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern yang terbuat dari lembar kertas beremulsi yang bisa digunakan untuk mencetak foto dengan cara contact print, juga bisa digunakan untuk cetak ulang layaknya film negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes. Untuk menghasilkan gambar positif Talbot menggunakan proses Saltprint. Gambar dengan film negatif pertama yang dibuat Talbot pada Agustus 1835 adalah pemandangan pintu perpustakaan di rumahnya di Hacock Abbey, Wiltshire – Inggris.
Dan di Indonesia, tahun 1997, saat teknologi digital mulai booming, saya yang mulai menggunakan kamera digital karena tuntutan pekerjaan sebagai profesional fotografi pun, mulai resah. Saya tidak anti digital, tapi di dunia pendidikan fotografi Indonesia lebih baik jika “mengetahui sesuatu dari dasarnya dulu”. Maka berawal dari sukses memotret pagar depan rumah tinggal dengan menggunakan KLJ kaleng susu 800 gr, dengan negatif kertas Chen Fu, digelarlah workshop perdana pada tahun 2001 di lokasi pembuangan sampah Bantar Gebang dengan asisten instruktur Ipoel, didukung Galeri i-see, dan disponsori Kedutaan Belanda. Akhirnya, September tahun 2001 terbitlah buku “MEMOTRET dengan KAMERA LUBANG JARUM” terbitan Puspaswara. Saya menyebut pinhole camera dengan sebutan Kamera Lubang Jarum (KLJ) karena konsep dasar inovasinya berbeda. Saya tidak terlalu mempermasalahkan “teknik”, tapi mencoba menularkan “rasa yang mendalam” dengan menggunakan kata kunci khas Indonesia: “secukupnya”. Selanjutnya, digelarlah workshop tour “gerilya” di Jawa, Bali, bahkan Makassar, hingga pada 17 Agustus 2002 berani memproklamirkan KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA (KLJI) sebagai komunitas para pemain KLJ.
Sebagai sebuah filosofi KLJI sebenarnya tidak mempersoalkan masalah “kamera”, tapi makna “lubang jarum” lah yang kami garis bawahi. Karena lubang jarum bisa berarti kondisi dimana saat sulit datang bertamu dan pada saat seperti itu kita harus mampu meloloskan diri. Pantas jika Leonardo Da Vinci menyatakan: "Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta", karena terbukti KLJ mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan bahkan olah fisik. Tetapi ruang itu harus kita penuhi dengan aksi-aksi nyata.
Sangat pantas jika KLJ di Indonesia digunakan sebagai kendaraan “pendidikan” dan juga masalah “seni”. Karena sesungguhnyalah, KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luarbiasa, KLJ menawarkan seni proses yang sangat melelahkan, tapi KLJ juga bisa sangat mengasyikkan. Mungkin hal itulah yang menggelitik sehingga KLJ bagaikan virus. Ini terbukti saat mengikuti “Gigir Manuk Multicultural Art Camp” bulan september 2002 di Bali. KLJ di terima para seniman Bali dengan tangan terbuka. Malah kami sempat berkolaborasi bersama seniman lainnya seperti seniman lukis, tekstil dan bahkan teater.
Pada buku ke-dua yang diterbitkan Gramedia tahun 2008 dalam bentuk majalah edisi Spesial Chip Foto Video bertajuk “RITUAL FOTOGRAFI”, saya menekankan bahwa fotografer harus melek digital tapi tetap menggarisbawahi pentingnya ber-KLJ. bahkan pada peluncuran buku tersebut digelar workshop KLJ tingkat lanjut yang selalu dicitakan sejak berdirinya KLJI 6 tahun silam, mencetak foto dengan teknik cetak penemu fotografi, William Henry Fox Talbot, abad 19, Saltprint. Dengan misi melahirkan kreator dan Instruktur yang berkwalitas, juga jika suatu masa bahan KLJ seperti kertas foto, developer, fixer, tidak lagi diproduksi akibat pasar yang berubah menjadi full digital, popularitas KLJ tidak akan lenyap bahkan seperti lahir kembali. Seperti sejarah lahirnya kamera beberapa abad lalu. Bahkan mungkin bisa melahirkan 10 George Eastman “Kodak” versi Indonesia serta bisa mencuri kembali waktu 100 tahun proses penemuan yang “hilang” di dunia fotografi Indonesia.
Tentu sangat ekslusif ! Karena hanya orang2 tertentu saja yang mampu membuat bahan KLJ dengan tangan mereka sendiri (handmade). Bagi Indonesia yang kaya akan bahan baku dan orang-orang kreatif, peristiwa seperti itu bukan sebuah khayalan. Membangkitkan kembali proses salt print, albumen print, cyanotype dan banyak lagi, sepertinya bukan masalah besar. Terbukti keterbatasan alat dan bahan yang selama ini menghantui, berubah menjadi kelebihan bahkan pada akhirnya malah menjadi khas daerah. Sebagai misal, karena di Jogja kaleng rokok mudah didapat lahirlah KLJ kaleng rokok, bahkan ditemukan pula KLJ kaleng yang bisa menghasilkan distorsi yang luarbiasa dan ini lahir dan menjadi khas KLJ Jogja. Tapi karena di Malang kaleng susah didapat, maka lahirlah KLJ pralon bahkan lahir pula seorang ahli kamera KLJ kotak tripleks. Dan di jakarta lahir kamera KLJ “pocket” dalam arti sebenarnya, bisa dimasukan ke dalam saku.
Dan jika efek KLJ disebutkan tidak akrab lingkungan, justru hikmahnya adalah kita dapat menyisipkan pesan dan memperkenalkan cara menangani limbah yang ditimbulkan dalam proses fotografi analog dengan benar. KLJ mengajarkan kita menata limbah dan puing dunia menjadi lebih berarti. KLJ mengingatkan kita akan dunia materi yang fana sekaligus menjadi alat untuk pendidikan jiwa, penggemblengan rasa, dan eksplorasi kreativitas bagi para kreator fotografi Indonesia.
Kini saatnya untuk menghargai sejarah sebagai langkah menuju masa datang. Atas pertimbangan itu pula jika KLJI memberikan penghargaan kepada tokoh Fotografi Indonesia yang hingga kini KLJI baru bisa memberikan penghargaan kepada fotografer Don Hasman yang masih aktif memotret budaya dan kang Dayat Ratman dari Bandung, tokoh fotografi hitam putih yang membantu lahirnya KLJ.
Meski hingga saat ini perjalanan KLJI masih sarat dengan berbagai ujian, tapi kami tetap yakin, bahwa kami masih ada di jalan yang benar. Karena KLJ bukan alat yang sempurna tapi kendaraan untuk menjadi sempurna..........
Sumber : http://kljindonesia.org/index.php*Riska Hasnawaty*
Ternyata Aku berjodoh dengan kampus Diploma 3 IPB dan termasuk dalam mahasiswi jurusan komunikasi. Begitu banyak pilihan untuk ikut berorganisasi dan aktif di kampus ini. Pilihanku tertuju pada sebuah kelompok yang senangnya mengabadikan sebuah momen, membuat gambar menjadi sesuatu yang enak dipandang. Yup, OBSCURA adalah sebuah kelompok pecinta fotografi yang ada di kampus D3 IPB. Itulah pilihanku! Saat ospek berlangsung Aku mengunjungi sebuah tenda hitam yang terpisah dari stand yang ditetapkan BEM.
***
“Eh, boy.. kita liat tenda yang ada di ujung sana yuk!?” Ujarku pada teman-teman yang lain ketika istirahat sedang berlangsung.
“ Emang ada apa sih boy?” Ujar salah satu temanku.
“Udah ah, yuk kita ke sana! Sepertinya ada pameran foto atau itu sebuah klub foto yang ada di kampus ini? Hayuk ah!”. Jawabku sambil menarik beberapa tangan temanku.
Tepat dugaanku, memang di sana sedang berlangsung pameran foto. Terlihat ada beberapa foto yang dipajang di luar. Ketika itu Aku dan beberapa temanku memasuki sebuat tenda yang dibuat seperti lorong yang menarik. Di samping kiri – kanannya tergantung figura foto yang berisi gambar-gambar indah dan sedap dipandang. Lalu, selama memasuki lorong tenda tersebut dikenakan karpet merah dan sisi-sisinya dihias dengan pasir pantai dan lampu-lampu sorot dan beberapa hiasan kehidupan laut yang disebar. Seolah seperti di pantai saja suasananya.
“Waahh, bagus ya!?” Aku pun berdecak kagum dan norak. Lalu kakak-kakaknya mengantar kami melihat foto-foto tersebut sambil bercuap-cuap. Memang Aku tak terlalu mendengarkan apa yang mereka katakan. Pikiran dan titik fokusku pun terbelalak melotototi figura-figura tersebut dengan terkagum-kagum. Tak terasa sampai juga dipenghujung lorong. Habis sudah imajinasiku di dalam lorong tersebut, ternyata masih ada foto-foto yang dicetak 4R yang tertempel di papan persegi panjang.
“Ayo dilihat-lihat dulu pameran, barangkali berminat gabung dengan kami!” Ujar salah satu kakak-kakaknya. Kakak-kakak itu terlihat bersemangat mempromosikan kelompoknya. Kakak yang satu bertubuh gemuk dan bermata sipit. Kakak yang kedua bertubuh kurus dengan jidat yang jenong seperti hamparan lapangan bola. Saat itu memang, Aku sudah memilik sebuah kamera DSLR dan membawanya pada saat ospek berlangsung. Tiba-tiba kakak yang bertubuh gemuk berceletuk “Nah, tuh udah ada yang punya kamera! Udah meningan gabung ajah dengan kita!”. Aku hanya membalas dengan sebuah senyuman kebahagian penuh semangat.
***
Aku pun berkutat di depan laptop dan melihat hasil foto-foto sembarangku. Sekedar iseng dan melepas rindu saat ospek yang sudah satu tahun berlalu. Nah, ada foto si kakak bertubuh kurus dan kepala jenong. “Oh God! Ternyata Aku pernah berfoto bersamanya! Hahahah… Norak amat!”. Tak menyangka kakak tersebut rumahnya dekat dengan daerah rumahku. Kita pun suka berpetualang dengannya. Maksudnya Aku dan temanku suka diajak dia dan kita pun mau saja diajak. Lagipula daripada bengong di rumah. Sering kali diajak ke Jakarta (Manggarai) tempat dia PKL.
Bunyi dering hapeku yang membangunkanku dari tidur siang di Jum’at yang panas.
“Mes, besok mau ikut gak ke Jakarta (Manggarai)?”
“Oh, mang mau ngapain ka? Ada apa?”
“Ada workhshop kamera lubang jarum! Butuh 5 orang lagi untuk hadir di sana! Ajakin yang lain juga tapi 2 orang lagi ajah ya?”
“Owh, Okeh ka! Iah, ikut deh! Ntar saya ajakin anak-anak lain yang pada bisa dan mau! Btw, besok jam berapa ka?”
“Okeh, besok jam 6 di stasiun ya? Oia, si Bebek dan Mike udah mau dan bisa. Tinggal satu orang lagi di ajak!”
Langsung Aku pun menghubungi Ugie, termasuk anggota Obscura juga. Dia pun mau dan bersedia ikut. Aku pun berbicara dengan Ibuku bahwa besok Aku bersama teman-teman akan pergi ke Manggarai untuk ikut workshop Kamera Lubang Jarum. Malamnya Aku merapihkan meja belajar yang sudah tak berbentuk wujudnya. Tergeletak di lantai dekat meja belajar sebuah buku kecil dengan cover hitam yang berjudul “Memotret dengan Kamera Lubang Jarum” karya Ray Bachtiar Drajat.
Buku tersebut mengingatkanku pada beberapa waktu lalu. Aku dan Ugie pergi ke stasiun Depok UI untuk mencari buku. Aku memang senang mencari buku-buku yang mungkin sudah tidak beredar lagi di Toko Buku. Iseng-iseng berhadiah Aku melihat buku “Memotret dengan Kamera Lubang Jarum” diantara tumpukan buku yang penuh debu. Lantas Aku pun terkejut dengan penuh rasa bahagia, langsung Aku mengambil buku tersebut dan membelinya. Hanya sekitar 8 ribu saja, padahal masih tercantum harga label aslinya Rp. 16.500,-. Maklum, buku bekas jadi murah! Inilah hal yang saya sukai.
Teringat kembali dengan sms dengan ka Rido, kakak yang berada di tenda pameran yang bertubuh kurus dan jenong. Sms yang isinya “Ada workhshop kamera lubang jarum! Butuh 5 orang untuk hadir di sana! Ajakin yang lain juga tapi 2 orang lagi ajah ya?”. Kata-kata “Kamera Lubang Jarum-nya” itu loh yang mengingatkanku dengan buku dan ajakan ka Rido. Lalu, teringat kembali dengan sebuah impianku dan harus terwujud. Amin. Pikiranku pun sudah tak fokus lagi untuk merapikan meja belajar. Sekarang yang ada dipikiranku hanya terfokus untuk membaca buku “Kamera Lubang Jarum”-nya Ray Bachtiar.
***
Sabtu pagi ini Aku begitu bersemangat menjalani hari. Tentunya karena Aku akan jalan ke Jakarta dan menemui seorang fotografer profesional yang tadi malam baru saja Aku baca bukunya. Bangun tidur pun Aku senyam-senyum kegirangan sambil berucap “Ya ALLAH… Mimpi apa Aku ini? Hari ini bakal bertemu dengan fotografer profesional yang dimiliki Indonesia! Terima kasih ya ALLAH telah mempertemukan hari ini yang akan ku lalui. Semoga ini merupakan langkah dan jalan menuju mimpi dan cita-citaku. Amin.”. Lantas dengan penuh semangat menggebu Aku segera memanaskan motor dan menghubungi Ugie. Setelah itu Aku menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Ibuku tersayang.
Sampailah Aku dan Ugie di stasiun Bogor tepat jam 06.00 wib.
“Wuih, suasananya pagi ini seger banget ya gie! Semoga pertanda baik untuk hari ini! =)”
“Iyah, mes! Eh, si ka Rido mana? Kok belum muncul batang idungnya? Kita udah dateng pagi-pagi begini?”
“Gw sms dah neh orang! Tunggu aje dah! Mening kita nyari tempat duduk gie deket loket! Hehe”.
Aku pun langsung menghubungi ka Rido.
“Buseeeeett… smsnya cakep bener gie… gesblek! Masa doski masih di rumah! Gelo-gelo! Kita datang kepagian!”
“Widihhhh… kita nungguin noh orang ampe kapan? Gelo, katanya jangan ngaret, tapi diye yang ngaret! Uwhhh..!”.
Setelah menunggu hampir setengah jam kemudian muncullah batang hidungnya dan kami pun segera membeli tiket dan berangkat. Pagi ini benar-benar sumringah hatiku. Di dalam kereta yang sepi dan lowong sesekali kami berbincang. Tak terasa sampai sudah di stasiun Manggarai tepat pukul 09.00 wib.
“Eh, kita jalan ajah ya ke rumah kang Raynya!? Deket kok!” Ujar ka Rido.
“Owh, yaudah… hayo ajah! Yg penting ramean jalannya! Hehe” Balasku.
Dalam hati pun berkata “Ya ALLAH, beberapa langkah lagi Aku bakal bertemu dengan sang fotografer dan ke rumahnya pula! Hihihi. “. Sepanjang jalan pun kami kadang bercanda dan bercengkrama saling mengakrabkan diri dengan senior. Itung-itung sekalian berolahraga di pagi yang menjelang siang ini. Akhirnya sampai juga di kediaman Ray Bachtiar fotografer profesional yang baru saja tadi malam Aku baca bukunya. Hati ini terasa berdebar-debar, seperti akan bertemu pujaan hati saja.
Rumah sederhana dengan perpaduan warna kuning kecoklatan seperti rumah jaman dahulu yang berlokasi di jalan Pariaman. Masuk ke lantai dua, suasana sudah terasa aroma rumah seorang seniman. Pikiranku pun mulai berkeliaran mencari mana diantara orang-orang itu yang bernama Ray Bachtiar. Kami masuk ke ruangan yang sedikit gelap, seperti berada diperpustakaan tua. Ada tumpukan buku-buku, koleski rokok jaman dulu, koleksi hasil foto Kamera Lubang Jarum yang sudah tertata di dinding, dan satu lagi yang paling menarik perhatianku Kamera kuno jaman dulu yang bentuknya besar seperti yang ada di film-film kartun.
Tak lama kemudian, datang lagi sekelompok anak muda seperti kami dan setelah itu kami pun dikumpulkan di ruangan tersebut. Dalam hatiku berkata sambil berpikir “Kok, ada kamera ya? Terus kok itu ada …… yg jadi pembawa acara acara di O Channel?”. Workhshop KLJ pun dimulai dan Itu dia orang yang bernama Ray Bachtiar. Tak terasa kami pun mengikuti workhshop dan sepertinya kami sedang diliput. Gumamku dalam hati“Assiik dah masuk tipi! Hahay! Udah dapet ilmu baru! Ketemu sang fotografer profesional! Temen baru! Eh, masuk tipi lagi! Subhanallah! Hahaha”.
Aku baru sadar, ternyata kami diajak syuting buat diliput sama O Channel. Setelah selesai syuting pun kami dikasih jamuan makan siang di rumah kang Ray. Jamuan makan siang gratis, dapat ilmu gratis langsung ketemu pakar KLJ-nya, seperti sebuah mimpi tapi ini kenyataan. Jadi teringat ketika SMA, Aku pernah menulis di secarik kertas tentang list mimpi-mimpiku dan sempat pernah temanku menertawakan kertas mimpiku. Salah satu list di kertas mimpiku adalah mempelajari dan mendalami dunia fotografi, serta memiliki kamera DSLR.
Sebuah keajaiban mimpi!! ALLAH telah menunjukkan kepadaku jalan atas semua mimpi dan do’aku. Memang awalnya Aku sempat sedikit merasa minder karena masuk D3 bukan S1, ternyata ALLAH punya rencana lain yang begitu indah di balik semua itu. Begitu banyak pengalaman, pengetahuan yang bisaku dapat dari kejadian ini. “Oia, Aku tinggal menunggu tayangnya acara… di O Chanel dan gosip di kampus ajah! Hahahaa.. Jangan pernah takut bermimpi kawan!”.
Bogor, 16 September 2010